SNI PERTANIAN ORGANIK

Logo_SNI

Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) memang adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:

  • Openess (keterbukaan): Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
  • Transparency (transparansi): Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI;
  • Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak): Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
  • Effectiveness and relevance: Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Coherence: Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan
  • Development dimension (berdimensi pembangunan): Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.
(sumber: Strategi BSN 2006-2009)

Logo_SNI

Selengkapnya, dapatkan di http://shttp://sh.st/YaJw9

 

DAPATKAN SNI 6729:2013 tentang  PERTANIAN ORGANIK: http://sh.st/YaKTI

RELAWAN GEPUS, Aku kau dan keangan yang berserakan :D

Apa itu Relawan?

(selengkanpnya di http://sh.st/YaRLj )

Relawan adalah orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional. Begitu juga menurut kapi para relawan Gerakan Pungust Sampah STPP Malang.
Sementara itu, Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya. menurut bahan penyusunnya, sampah dibedakan menjadi:
  1. Sampah organik – dapat diurai (degradable), yaitu  sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
  2. Sampah anorganik – tidak terurai (undegradable), yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

Perlu diingat ??

Lingkungan yang sehat, bersih dan indah merupakan dambaan setiap orang; tetapi untuk mewujudkannya diperlukan pemahaman dan komitmen dalam bertindak. Keinginan untuk mencapainya sangat sering dikumandangkan; baik oleh kelompok masyarakat maupun oleh lembaga pemerintah; tetapi seringkali hanya sebatas slogan belaka tanpa diiringi oleh upaya serius. Berbagai langkah telah diupayakan oleh pemerintah, tetapi tanpa dukungan secara sadar oleh anggota masyarakat, lingkungan yang sehat tidak akan pernah dapat terwujud; karena upaya ini harus dilakukan secara bersama-sama. Kesan bahwa masyarakat tidak perduli terhadap lingkungan, tercermin dari keadaan lingkungan yang dari waktu ke waktu memperlihatkan penurunan kualitas. Kondisi seperti ini terjadi karena lingkungan dicemari oleh berbagai bahan buangan (sampah/limbah), baik limbah rumah tangga maupun limbah industri.

Secara umum orang beranggapan bahwa sampah adalah sesuatu barang atau benda yang sudah tidak berguna bagi dirinya. Sampah merupakan sesuatu yang kotor, bau, jelek; tidak berguna lagi sehingga secepatnya harus disingkirkan dan dibuang. Persepsi tentang sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna, diperkuat oleh pernyataan “buanglah sampah pada tempatnya” yang mengisaratkan bahwa sampah memang harus dibuang; tidak diajurkan untuk dimanfaatkan.

Sudah menjadi kebiasaan bagi manusia (masyarakat) untuk membuang sampah; apalagi anggota masyarakat telah dibebani untuk membayar retribusi, sehingga dianggap bahwa sampah adalah urusan pemerintah. Bahkan perilaku membuang sampah menjadi tidak terkontrol; masih banyak anggota masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan, tidak pada tempat yang telah disediakan. Tumpukan sampah di pinggir jalan, merupakan pemandangan yang sudah biasa. Sampah berserakan di jalan-jalan, di kendaraan umum atau fasilitas-fasilitas umum lainnya merupakan suatu bukti bahwa kesadaran kita (masyarakat) tentang lingkungan yang bersih masih sangat rendah. Masyarakat yang sadar akan kesehatanpun, atau masyarakat yang mengerti bahwa sampah merupakan sumber pencemar dan sumber penyakit; seolah tidak peduli. Setiap orang merasa bahwa kalau hanya dirinya yang peduli, dan kalau hanya dirinya saja yang membuang sampah pada tempatnya; tidak akan ada gunanya. Sebagian besar orang berfikiran seperti itu, sehingga sangat jarang yang terlihat peduli.

Penyebab Orang Membuang Sampah Sembarangan

Penyebab utama perilaku membuang sampah sembarangan ini bisa terbentuk dan bertahan kuat didalam perilaku kita, antara lain :

  1. Didalam pikiran alam bawah sadar, masyarakat menganggap bahwa membuang sampah sembarangan ini bukan merupakan suatu hal yang salah dan wajar untuk dilakukan.
  2. Norma dari lingkungan sekitar seperti keluarga, sekolah, masyarakat, atau bahkan tempat pekerjaan. Pengaruh lingkungan merupakan suatu faktor besar didalam munculnya suatu perilaku. Contohnya, pengaruh lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, akan menjadi faktor besar dalam munculnya perilaku membuang sampah sembarangan.
  3. Seseorang akan melakukan suatu tindakan yang dirasa mudah untuk dilakukan. Jadi, orang tidak akan membuang sampah sembarangan jika tersedianya banyak tempat sampah.
  4. Temmpat yang kotor dan memang sudah banyak sampahnya. Tempat yang asal mulanya terdapat banyak sampah, bisa membuat orang yakin bahwa membuang sampah sembarangan diperbolehkan ditempat itu. Jadi, warga sekitar tanpa ragu untuk membuang sampahnya di tempat itu.
  5. Kurang banyak tempat sampah. Kurangnya tempat sampah membuat orang sulit untuk membuang sampahnya. Jadi, orang dengan mudah akan membuang sampahnya sembarangan.

Dampak Yang Ditimbulkan Sampah

Sampah-sampah yang berserakan, terutama ditumpukan sampah yang berlebihan dapat mengundang lalat, pertumbuhan organisme-organisme yang membahayakan, mencemari udara, tanah dan air. Sehingga dampak negatif yang ditimbulkan cukup banyak. Dampak yang dapat ditimbulkan sampah, antara lain :

  1. Diare, kolera, dan tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat mencemari air tanah yang biasa di minum masyarakat. Penyakit DBD (Demam Berdarah) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah dengan pengelolaan sampahnya yang tidak memadai.
  2. Selama ini ada anggapan bahwa sampah menimbulkan pemanasan global. Berdasarkan penelitian anggapan tersebut tidak 100%benar. Sampah yang dibuang begitu saja berkontribusi dalam mempercepat pemanasan global, karena sampah dapat menghasilkan gas metan (CH4) yang dapat merusak atmosfer bumi. Rata-rata tiap satu ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metan. Gas metan itu sendiri mempunyai kekuatan merusak hingga 20-30 kali lebih besar dari karbondioksida (CO2). Gas metan berada di atmosfer selama sekitar 7-10 tahundan dapat meningkatkan suhu sekitar 1,30C per tahun.
  3. Sampah dapat menyebabkan banjir. Sampah yang dibuang sembarangan, salah satunya yang dibuang kesungai atau aliran air lainnya. Lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat aliran air, sehingga air tidak dapat mengalir dengan lancar dan akan meluap menyebabkan banjir.
  4. Selain pernyataan diatas, sampah juga dapat merusak pemandangan.

Pengolahan Sampah

Sampah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sampah haruslah diolah atau di daur ulang dengan baik agar tidak mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan manusia. Sampah yang selama ini kita buang begitu saja, ternyata masih dapat diolah kembali antara lain dalam bentuk kerajinan yang bernilai ekonomi, bercita rasa seni dan unik. Secara umum pengelolaan sampah dilakukan dalam tiga tahap kegiatan, yaitu : pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir/pengolahan. Pada tahap pembuangan akhir/pengolahan, sampah akan mengalami proses-proses tertentu, baik secara fisik, kimiawi, maupun biologis.

Ada dua proses pembuangan akhir, yaitu open dumping (penimbunan secara terbuka) dan sanitary landfill (pembuangan secara sehat). Pada proses open dumping, sampah ditimbun secara bergantian dengan tanah sebagai lapisan penutupnya.

Alternatif Mengolah Sampah

Sampah yang dibuang harus dipilih sehingga tiap bagian dapat di daur ulang secara optimal. Hal ini jauh lebih baik di bandingkan membuangnya ke sistem pembuangan sampah yang tercemar. Pembuangan sampah yang tercampur dapat merusak dan mengurangi nilai material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan dari sampah-sampah tersebut.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang dapat di terapkan dalam pengolahan sampah. Prinsip ini sering dikenal dengan 4R, yaitu :

  • Reduse (mengurangi), sebisa mungkin kita meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan barang atau material, semakin banyak sampah yang kita hasilkan
  • Reuse (menggunakan kembali), sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang masih bisa dipakai kembali. Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum barang menjadi sampah.
  • Recycle (mendaur ulang), sebisa mungkin, barang-barang yang tidak berguna di daur ulang kembali. Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri informal dan rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
  • Replace (mengganti), teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama dan hanya barang-barang yang lebih ramah lingkungan.

Dalam mengelola usaha daur ulang, kita bisa hanya melakukan satu dari kegiatan-kegiatan berikut ini : pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian, dan pembuangan produk/material bekas pakai, atau jika usaha daur ulang berkembang dengan pesat, kita bisa melakukan semua kegiatan tersebut secara bersamaan.

 

Inilah photo-photo relawan gerakan pungut sampah di STPP Malang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PELATIHAN GRATIS !!!

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DENGAN TEKNOLOGI “BEKA”

Dekomposer disebut juga perombak (pengurai), yaitu organisme yang bertugas merombak sisa-sisa organisme lain untuk memperoleh makanannya. Adanya perombak ini memungkinkan zat-zat organik terurai dan mengalami daur ulang kembali menjadi hara. Yang termasuk kelompok perombak adalah bakteri dan jamur. Organisme yang memakan organisme mati dan produk-produk limbah dari organisme lain. Dekomposer atau Pengurai membantu siklus nutrisi kembali ke ekosistem. Beberapa contoh dekomposer adalah serangga, cacing tanah dan bakteri.

BeKa merupakan produk yang berfungsi sebagai decomposer bahan-bahan organik nabati maupun hewani dalam pembuatan Pupuk Padat Organik (KOMPOS). Empat jenis dekomposer adalah mikroba, seperti bakteri dan jamur; makrofauna, seperti protozoa; meiofauna, seperti kumbang; dan makrofauna, seperti cacing tanah. Dekomposer membuat tanah kaya dengan menambahkan senyawa organik dengan itu. Zat seperti karbon, air dan nitrogen dikembalikan ke ekosistem melalui tindakan pengurai. Organisme penting ini mengkonsumsi bahan organik, mengubah zat kembali ke bentuk anorganik mereka. Beberapa bahan anorganik yang dibuat oleh pengurai dan kembali ke lingkungan termasuk fosfat, karbon dioksida dan amonium.BeKa diproduksi melalui proses bioteknologi bahan-bahan organik, menggunakan mikroba pengurai bahan organik (terutama selulosa dan lignin) yang unggul, yaitu: Azospirillum, Aspergillus, Actinomycetes, Lactobacillus, Pseudomonas serta Yeast yang berfungsi juga sebagai penambat N, Pelarut P dan Pelarut K. Sehingga penggunaan BeKa mempercepat proses pembuatan Pupuk Padat Organik (KOMPOS) sekaligus melengkapinya dengan mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman.

Pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga nonmanajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu. tujuan pelatihan untuk pembuatan pupuk organik yaitu agar petani dan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami cara membuat pupuk organik dengan teknologi beka.

beka pamflet.png

Adapun pelaksanaan pelatihan teknologi beka dilaksanakan di:

Tempat: Laboratorium Balai Penyuluhan Pertanian STPP Malang. 
Waktu: Kamis, tanggal 19 November 2015 pukul 13.00-14.00 WIB.
Pemateri: Ibu Titien,S.TP dari PT. IAC tbk. 

Cara pendaftaran:

Ketik: FGD-Nama-Pekerjaan(Mahasiswa/Petani)
Kirim Ke 082 136 158 921

ACARA INI DIPERSEMBAHKAN OLEH:

Picture1

STPP Organic Farming Team

STPP Malang Jl. Dr. Cipto No. 144a Bedali, Lawang-Malang

“Saatnya untuk berbagi ilmu dan strategi membuat pupuk organik secara mudah, murah dan praktis untuk menebar kebaikan melalui pertanian yang rahmatan lil’alamin”

DI SPONSORI OLEH :

srsn

Oganic farming (Pertanian organik)

Minat taruna STPP Malang terhadap budidaya tanaman organik dan pertanian terpadu sangat. Namun selain itu kesadaran taruna STPP Malang terhadap isu-isu global bidang lingkungan terutama isu-isu pencemaran sudah sangat mengerikan. Atas dasar berbagai hal tersebutlah kemudian SOFT didirikan.

SOFT merupakan singkatan dari kalimat STPP Organic Farming Team. SOFT terbentuk mulai tanggal 18 September 2015, namun di SK-kan pada tanggal 28 Oktober 2015. Soft merupakan unit kegiata taruna yang dibina oleh seluruh elemen laboratorium, instalansi dan terumata tim teknologi produksi STPP Malang. Awal mulanya soft merupakan organisasi kecil yaitu kelompok agribisnis. Kemudian diusulkan menjadi komunitas taruna dibidang lingkungan terutama tim produksi tanaman organik dan Pertanian terpadu berkelanjutan.

Philosofi dari nama ini adalah kata “SOFT” dalam kamus bahasa inggris. Soft memiliki arti lembut, halus, ramah sehingga dalam menanam tanaman organik diharuskan memperlakukan tanaman dengan penuh kelembutan dan ketenangan serta ketelatenan. Apabila tanpa didasari sikap telaten maka hasilnya tidak akan memuaskan.

SOFT memiliki motto diambil dari pendapat Confucius (551 SM-479 SM) yaitu “ If you think in terms of a year, plant the seed; if in terms of ten years, plant trees; if in terms of 100 years, teach the people”. Maknanya adalah setiap yang dlakukan oleh seseorang adalah suatu wujud ibadah, karena manusia merupakan makhluk yang berakal dan berhati yang sudah kewajibannya menjaga keseimbangan alam salah satunya dari pertanian yang ramah lingkungan. Manfaat dari apa yang telah dilakukan oleh soft dan dilestarikanmerupakan sesatu yang bernilai abadi.